Nikmatnya 4 Hidangan Tradisional Lebaran Khas Musi Banyuasin

Kue Khas Muba--
KORANHARIANMUBA.COM- Lebaran merupakan momen istimewa yang dinanti-nantikan oleh masyarakat, tidak hanya sebagai ajang silaturahmi tetapi juga untuk menikmati hidangan khas yang jarang ditemui di hari biasa. Di Kabupaten Musi Banyuasin, berbagai makanan tradisional selalu hadir menghiasi meja makan saat Idul Fitri maupun Idul Adha. Berikut empat makanan khas yang lazim dijumpai saat Lebaran di Bumi Serasan Sekate:
1. Juada (Joda)
Juada adalah penganan khas Musi Banyuasin yang menyerupai dodol. Terbuat dari tepung ketan, gula merah, dan santan kelapa, makanan ini memiliki tekstur yang kenyal dan cita rasa manis gurih. Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan karena adonan harus diaduk terus-menerus selama 5-6 jam menggunakan sendok kayu besar atau 'Coket' dalam kuali di atas tungku kayu bakar. Tidak hanya menjadi sajian khas Lebaran, Juada juga sering disajikan dalam berbagai acara adat.
--
2. Lemang
Lemang adalah makanan berbahan dasar beras ketan yang dimasak di dalam seruas bambu dengan tambahan santan kelapa dan daun pisang sebagai pelapis. Proses pembuatannya memerlukan keahlian khusus agar lemang matang dengan sempurna dan memiliki rasa yang gurih. Di Kecamatan Sanga Desa, tradisi memasak lemang sebelum Lebaran bahkan dikenal dengan sebutan ‘Ahai Melemang’, di mana masyarakat secara bersama-sama menyiapkan lemang untuk disajikan di hari raya.
--
3. Kue Delapan Jam
Sesuai namanya, kue ini memerlukan waktu delapan jam untuk dikukus hingga matang sempurna. Kue Delapan Jam terbuat dari telur, susu kental manis, gula pasir, margarin, dan sedikit agar-agar. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut membuatnya menjadi hidangan favorit saat Lebaran. Proses memasaknya yang panjang menjadikan kue ini sebagai simbol kesabaran dan ketelatenan dalam budaya kuliner Musi Banyuasin.
--
4. Kue Bangkit
Kue Bangkit atau ‘Kue Bangket’ dalam pelafalan lokal, merupakan kue kering berbahan dasar sagu, santan kelapa, dan gula pasir. Nama ‘Bangkit’ berasal dari cara pembuatannya, di mana adonan mengembang dua kali lipat saat dipanggang. Kue ini memiliki tekstur renyah dengan sensasi lumer di mulut, menjadikannya salah satu camilan favorit saat Lebaran.
Keempat makanan khas ini tidak hanya menggugah selera tetapi juga mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Musi Banyuasin. Menikmati hidangan-hidangan ini saat Lebaran bukan sekadar soal rasa, tetapi juga tentang mengenang warisan kuliner yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.(*)