Menjelajahi Keindahan dan Keunikan Desa Wae Rebo, Surga Tersembunyi di Atas Gunung
Wae Rebo, Desa Adat Eksotis di Pegunungan Flores--
KORANHARIANMUBA.COM-Tersembunyi di balik perbukitan hijau yang menjulang tinggi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo bak mutiara yang tersimpan rapat.
Desa adat ini bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan sebuah pengalaman budaya yang mendalam, menawarkan pesona alam yang memukau dan kehidupan tradisional yang masih lestari.
Dikenal sebagai "desa di atas awan," Wae Rebo memukau setiap pengunjung dengan arsitektur rumah adatnya yang unik, keramahan penduduknya, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain, menjadikan setiap momen di sana begitu berkesan.
Perjalanan menuju Wae Rebo sendiri merupakan sebuah petualangan yang menantang. Umumnya dimulai dari Labuan Bajo, pusat pariwisata di Flores, Anda akan berkendara sekitar 3-4 jam menuju Desa Denge atau Desa Cara, yang menjadi titik awal pendakian.
BACA JUGA:Fakta Unik Panda Raksasa, Beruang Soliter Pencinta Bambu
BACA JUGA:Mengenal Tradisi Bakar Batu, Simbol Persatuan dan Rasa Syukur Masyarakat Papua
Pendakian dari Denge ke Wae Rebo membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam, tergantung pada kondisi fisik dan cuaca. Jalur yang dilalui cukup menantang, melintasi hutan lebat dan terkadang licin setelah hujan. Namun, setiap langkah akan terbayar lunas ketika siluet rumah-rumah adat Wae Rebo mulai terlihat menjulang di tengah kabut atau awan, sebuah pemandangan ikonik yang langsung memukau mata.
Setibanya di Wae Rebo, Anda akan langsung disambut oleh pemandangan tujuh Mbaru Niang, rumah adat berbentuk kerucut yang menjadi ciri khas desa ini.
Mbaru Niang adalah mahakarya arsitektur tradisional Manggarai yang kaya akan nilai filosofis dan historis. Setiap Mbaru Niang terdiri dari lima tingkat dengan fungsi yang berbeda: Lutur (tingkat 1) sebagai tempat tinggal, Lobo (tingkat 2) untuk menyimpan bahan makanan, Lentar (tingkat 3) untuk benih tanaman, Lempa Rae (tingkat 4) untuk cadangan makanan, dan Hekang Code (tingkat 5) sebagai tempat persembahan kepada leluhur dan Tuhan.
Konstruksi Mbaru Niang yang sepenuhnya menggunakan bahan alami seperti kayu, bambu, dan ijuk tanpa paku, serta bentuk kerucutnya yang dirancang untuk menahan angin kencang dan gempa bumi, menunjukkan kearifan lokal yang luar biasa dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
BACA JUGA:Mengenal TPST Bantar Gebang, Tempat Pembuangam Sampah Terbesar se-Indonesia
BACA JUGA:Kupas Tuntas Manfaat Rutin Konsumsi Lemon bagi Tubuh
Masyarakat Wae Rebo hidup dengan sangat harmonis, menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan adat istiadat leluhur. Mereka dikenal sangat ramah dan terbuka menyambut tamu.
Saat pertama kali tiba, setiap pengunjung diwajibkan untuk mengikuti upacara Waeluu di rumah adat utama, Niang Gendang. Upacara singkat ini merupakan bentuk permohonan izin kepada leluhur untuk memasuki desa dan juga doa restu agar perjalanan pengunjung aman.