Baca Koran harian Muba Online

Mengenal Kopi Luwak, Komoditas Indonesia yang Mendunia

Kopi Luwak, Primadona Kopi Premium dari Indonesia--

KORANHARIANMUBA.COM- Kopi Luwak, yang dikenal sebagai salah satu kopi termahal di dunia, memiliki reputasi yang kompleks dan kontroversial. Di satu sisi, ia dipuja karena proses produksinya yang unik dan cita rasanya yang halus. 

Namun, di sisi lain, industri ini diselimuti oleh isu-isu kesejahteraan hewan yang serius dan maraknya pemalsuan. Artikel ini akan mengupas tuntas seluk-beluk Kopi Luwak, dari sejarahnya yang menarik hingga fakta-fakta yang seringkali tersembunyi di balik secangkir kenikmatannya.

Sejarah Kopi Luwak berawal dari era kolonial Belanda di Indonesia. Para petani lokal yang dilarang memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi menemukan cara alternatif untuk menikmati minuman ini. 

Mereka mengamati bahwa luwak (musang palem asia) gemar memakan buah kopi terbaik dan paling matang, lalu mengeluarkan biji kopinya secara utuh bersama kotorannya. Para petani kemudian mengumpulkan biji kopi dari kotoran luwak ini, membersihkannya, menyangrai, dan menyeduhnya.

BACA JUGA:Minyak Wijen, Bumbu Dapur dengan Aroma Khas yang Punya Segudang Khasiat

BACA JUGA: Menjelajahi Keindahan dan Keunikan Desa Wae Rebo, Surga Tersembunyi di Atas Gunung

Proses fermentasi alami di dalam perut luwak inilah yang diyakini memberikan cita rasa unik pada Kopi Luwak. Enzim-enzim pencernaan luwak meresap ke dalam biji kopi, memecah protein yang menyebabkan rasa pahit dan mengubah komposisi kimianya. 

Hasilnya adalah kopi dengan tingkat keasaman yang lebih rendah, rasa yang lebih halus, dan aroma yang khas, sering dideskripsikan sebagai earthy dan sedikit syrupy.

Popularitas global Kopi Luwak telah mendorong munculnya praktik yang tidak etis. Demi memenuhi permintaan pasar yang tinggi, banyak luwak ditangkap dari alam liar dan dipelihara dalam kandang-kandang yang sempit dan kotor. 

Hewan-hewan nokturnal dan penyendiri ini dipaksa untuk makan buah kopi dalam jumlah berlebihan, seringkali dengan kualitas yang buruk, yang menyebabkan mereka stres, malnutrisi, dan bahkan kematian.

BACA JUGA:Fakta Unik Panda Raksasa, Beruang Soliter Pencinta Bambu

BACA JUGA:Mengenal Tradisi Bakar Batu, Simbol Persatuan dan Rasa Syukur Masyarakat Papua

Kondisi penangkaran yang kejam ini tidak hanya menyiksa hewan, tetapi juga menurunkan kualitas kopi yang dihasilkan. Luwak di alam liar memiliki kebebasan untuk memilih buah kopi terbaik, sementara luwak di penangkaran tidak memiliki pilihan tersebut. 

Akibatnya, kualitas Kopi Luwak dari hasil penangkaran seringkali tidak sebanding dengan kopi dari luwak liar.

Tag
Share
Berita Terkini
Berita Terpopuler
Berita Pilihan